BLOG RESMI MEDIA PENCERAHAN
BERSATU BERJUANG untuk DEMOKRASI dan KESEJAHTERAAN

KAMUS

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Oktober 2010

Butet Kartaredjasa Akan Pentaskan Monolog “Kucing”

0 komentar

JAKARTA: Seniman monolog, Butet Kartaredjasa akan mementaskan monolog Kucing, karya Putu Wijaya, di Jakarta dan Yogyakarta.

Di Jakarta, pentas monolog Butet akan diselenggarakan di di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, hari ini (30/10), sekitar pukul 20.00 WIB. Sementara pementasan monolog di Yogyakarta akan berlangsung pada tanggal 3-4 November 2010 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.

Dibanding monolog-monolog sebelumnya, kali ini Butet ingin memberi atmosfir yang lain dalam pentasnya.
“Selama ini pentas-pentas monolog saya cenderung berformat besar. Seperti Mayat Terhormat, Matinya Toekang Kritik atau Sarimin, yang membutuhkan banyak spektakel pemanggungan. Dalam Kucing, saya ingin sesuatu yang serba simple dan sederhana” kata Butet melalui siaran pers yang disebarkan kepada media.

Pada panggung pertunjukan monolog sebelumnya, penampilan Butet memang cenderung pada format artistik yang besar, yang membutuhkan prasyarat kebutuhan artistik yang tidak murah dan juga cenderung wah.
Itu terlihat dari tiga pentas monolognya, sejak Mayat Terhormat (karya: Indra Tranggono dan Agus Noor), Matinya Toekang Kritik dan Sarimin, keduanya karya Agus Noor.

Tetapi pada pementasan monolog Kucing ini, Butet mengingikan pementasan yang simple dan sederhana. “Ini berkait erat dengan keinginan saya untuk keliling ke kota-kota kecil, mementaskan monolog.” Ujarnya.


Pentas Keliling Jawa Dan Luar Jawa

Butet mengakui bahwa monolog Kucing ini sangat fleksibel untuk dipentaskan dimanapun. Ini dikarenakan kebutuan artistik dan konsep kebutuhan panggungnya juga sederhana dan simple.
Rencananya, Butet akan melakukan pentas keliling ke kota-kota kecil di Jawa sampai luar Jawa, yang akan dimulai pada bulan Januari 2011 mendatang.

Saat pentas keliling itulah, Butet mengaku, akan diadakan pula workshop seni – keaktoran, sastra/naskah lakon, dan musik, dengan melibatkan Djaduk Ferianto, Whani Darmawan dan Agus Noor.
“Kami ingin berbagi pengalaman, setelah selama ini kami seperti mengabaikan mereka. Selama ini, saudara-saudara saya di luar Jawa juga di berbagai pelosok, kan hanya bertemu saya lewat pemberitaan pers, tayangan televisi atau vcd dan dvd dokumentasi pertunjukaan saya saja.”


Tentang Monolog Kucing..

Kucing berkisah tentang hubungan suami istri, yang melibatkan seekor kucing milik tetangganya. Dari kucing yang suatu hari memangsa rica-rica yang disiapkan si istri untuk berbuka puasa itulah, alur cerita mengalir.
Kucing bukan tema yang politis, melainkan tentang manusia dengan segala problem kesehariannya yang juga sederhana.

Dengan alurnya yang lincah dan khas, Putu Wijaya berhasil membangun alur yang menarik, sekaligus bisa membicarakan soal hakikat kemanusiaan dan seluruh persoalannya. Sebuah kisah yang kelihatannya remeh dan sederhana, tetapi langsung menghunjam ke hakekat dan maknanya.
Melalui lakon Kucing ini, Butet ingin mengembalikan monolog sebagai permainan seni peran yang otonom. Sebuah ikhtiar pematangan diri seorang aktor dalam menafsir karakter dan memberi “nyawa” sebuah teks sastra.

“Pendeknya, monolog dikembalikan lagi sebagai sebuah proses keaktoran yang menjunjung tinggi kekuatan seni akting. Monolog dikembalikan ke “khitah”-nya,” ujarnya.

Minggu, 17 Oktober 2010

Tom Morello, dia yang benar-benar musisi Revolusioner..

0 komentar
Dalam deretan gitaris terbaik di dunia saat, nama Tom Morello disejajarkan dengan nama-nama seperti Slash (Guns N’ Roses/Snakepit), James Hetfield (Metallica), Jimmy Page (Led Zeppelin), Joe Satriani, Carlos Santana, dan lain sebagainya.

Bukan hanya seorang gitaris, Tom Morello adalah seorang aktivis politik dan “seorang revolusioner’. Kepada Amy Goodman, jurnalis progressif asal Amerika, Tom menceritakan latar-belakang keluarganya. Ibunya, mary Morello, adalah pendiri organisasi anti sensor yang disebut Parents for Rock and Rap. Ayahnya adalah seorang Kenya, sangat aktif dan terlibat dalam perjuangan pembebasan nasional negeri itu. Jomo Kenyatta, presiden pertama Kenya dan sekaligus pendiri negeri itu, adalah pamannya dan sering mengajarinya soal politik. “Anda tahu, saya memasang foto Jomo Kenyatta di dinding saya,” katanya.

Dia juga mengaku memiliki buku Kwame Nkrumah, pemimpin dan pejuang pembebasan nasional Ghana dan bangsa-bangsa Afrika, disamping manual Guerrilla Warfare-nya Che Guevara, pahlawan kiri yang sangat dikaguminya.

Dari Rage Against the Machine sampai the Street Sweeper Social Club, juga The Nightwatchman sekarang ini, Tom Morello tetap konsisten menjadi musisi paling aktif dalam memperjuangan keadilan sosial dan demokrasi.

Namanya berkibar pada tahun 1991, ketika ia dan Zack de la Rocha mendirikan band bernama “Rage Against The Machine”, band yang dikenal dengan warna musiknya yang kental dengan politik dan perlawanan. Album pertamanya, Rage Against The Machine dirilis pada tahun 1992 dengan sampul kontroversial, yaitu seorang Budha yang membakar diri.

Album kedua RATM, Evil Empire (1996) dengan lagu hit-nya “Bulls on Parade”, semakin melambungkan nama band ini di tangga musik saat itu. Berbagai penghargaan digondol oleh Tom Morello dan kawan-kawan, termasuk Grammy Award. Album lainnya adalah The Battle of Los Angeles dan Renegade.
Namun, sejak tahun 2000, Zack De La Rocha meninggalkan band ini dan pergi entah kemana. Rumor menyebutkan, Zack pergi ke sebuah daerah di Meksiko, yaitu Chiapas, untuk bergabung dengan gerilyawan Zapatista.

Tom Morello sendiri kemudian merekrut bekas vokalis Soundgarden, Chris Cornell, untuk mendirikan band baru, yaitu Audioslave. Salah satu penampilan terbaik Tom Morello dan Audioslave, adalah ketika tampil di hadapan sedikitnya 50.000 rakyat Kuba, di  La Tribuna Antiimperialista José Martí, Havana.


Aktivis Politik

Selain kesehariannya sebagai seorang pemain gitar dan musisi, Tom Morello adalah seorang aktivis politik. Dia adalah anggota dan sekaligus pendiri “Axis Of Justice”, grup politik yang bekerja untuk memperjuangkan hak-hak kaum imigran dan penghapusan hukuman mati.

Keluarga Morello adalah penambang batubara di pusat Illinois, dan nilai-nilai serikat buruh sudah tertanam dalam jiwanya sejak muda. Dia menjadi anggota Industrial Workers of the World (IWW), dan senang sekali menyanyikan lagu “union song” dalam setiap aksi mogok buruh dan perayaan may day.

Lagu “Union Song” ditulis setelah aksi protes menentang Free Trade Area of the America di Miami, tahun 2003. “Diriku bersama Steve Earle dan Billy Bragg, dan beberapa musisi lainnya baru saja disiram gas air-mata, dan kami di sana bermain untuk rally pekerja baja. Saya tidak punya lagu untuk bermain hari ini, sehingga saya harus menulis satu lagu, sementara gas air mata masih terasa di pakaian saya,” katanya menceritakan kejadian itu.

“Jika anda benar-benar menginginkan perubahan, kau harus menciptakannya, kau harus menuntut ini,” kata Tom Morello. Meski begitu, Tom mengatakan, “politik di jalanan adalah sama pentingnya dengan politik dalam kotak suara.”

Dia juga menyanyikan lagu “Alone Without You”, sebagai pengantar film Sicko, karya Michael Moore, seorang penulis dan sutradara film AS yang sangat kritis.
Terakhir, mengomentari pemilu di Brazil, Tom Morello menyatakan dukungannya kepada Dilma Rousseff, kandidat dari partai buruh dan bekas gerilyawan dalam perjuangan melawan kediktatoran di Brazil. “Dilma Rousseff adalah kandidat untuk kaum miskin, kelas pekerja, dan kaum muda. harapanku adalah bahwa kaum muda Brazil memilihnya,” tulis Tom di Twitternya.


“THE NIGHTWATCHMAN”

“Nightwatchman” adalah nama yang dituliskan Tom ketika mengunjungi warung kopi di Los Anggeles dan bermain di hadapan delapan orang. Tidak ada orang yang tahu dia saat itu. Nama ini kembali dipergunakan saat ikut bermain dengan kawannya, Billy Bragg, dalam Tell Us the Truth tour—sebuah konser untuk menentang perdagangan bebas dan melawan dominasi media besar.

The Nightwatchman sudah meluncurkan dua album, yaitu “One Man Revolution’ (2007)  dan The Fabled City (2008). Tom bermaksud menjadikan “The Nightwatchman” sebagai perwujudan pseudo-Bob Dylan di abad 21, namun ia sendiri sering manggambarkan dirinya sebagai “Robin Hood berkulit hitam abad-21 dalam music”.

“One man revolution tour” menggandeng sejumlah musisi lain, seperti Serj Tankian, perry farrell, Jon Foreman, Sen Dog (Cypress Hill), dan gitaris Guns n Roses, Slash. One man revolution juga merupakan reaksi Tom terhadap kebijakan imperialis dari Presiden Bush ketika berkuasa. ‘Ini adalah reaksi terhadap perang illegal dan tak bermoral. Reaksi terhadap penyiksaan dan tekanan terhadap kebebasan sipil. Reaksi terhadap semakin banyak korporasi yang semakin kaya, sementara banyak orang yang mengemis di jalanan,” ujarnya.

Dalam lagu “The Road I Must Travel”, yang bercerita soal anti-kekerasan, anda akan menyaksikan clip video lagu ini akan dipenuhi oleh background gambar sejumlah tokoh, seperti Gandhi, Joe Hill, Che Guevara, Malcom X, Sub Commandante Marcos, Frederick Douglass, Emma Goldman, dan lain-lain.
Sementara The Fabled City, yang dirilis pada tanggal 30 september 2008, berisi keprihatian terhadap badai Katrina dan penjara Guantanamo. Lagu “Midnight in the City of Destruction” sangat terang menceritakan penderitaan korban bencana Katrina di New Orleans.
I lost my guitar, my home, my hope and my good fortune
I lost my grandfather, two neighbors and my friend
I pray that God himself will come and drown the president
If the levees break again
Now we’re standin’ at the crossroads waitin’ for instruction
And it’s midnight in the city of destruction



Pemberi Inspirasi

Dalam sebuah wawancara dengan Z.net, Tom mengakui bahwa dirinya sangat terinspirasi Joe Hill, seorang aktivis, penulis, dan penulis lagu Amerika yang revolusioner. Karya-karya Joe Hill sangat menginspirasinya.
Salah satu perkataan Joe Hill yang paling dikenang oleh Tom Morello adalah; “famplet memberi informasi, tapi musik memberi inspirasi.” “Anda akan menbaca famplet hanya sekali, tetapi anda akan mendengar music lagi..lagi..dan lagi,” kata Tom Morello.

Namun, dia juga mengaku banyak belajar kepada Bruce Springsteen, Bob Dylan, Woody Guthrie, dan Pete Seeger. Ya, tentu saja, selain Kwame Nkrumah dan Che Guevara. Semasa kuliah, Tom juga menjadi pengikut setia Mohandas K Gandhi dan Martin Luther King Jr, dan menjadi inspirasi bagi lagunya “The Road I Must Travel”.

Buah Tangan Bujang Parewa

0 komentar
Oleh Iwan Komindo*)

Nusa Kambangan, 1979

“Kita segera bebas,” bisik Ragil. Kumis tebalnya menggelitik daun telinga Bujang Parewa. “Ah… geli ah,” gerutu Bujang Parewa seraya mundur beberapa langkah dan menggosok-gosok daun telinga.

“Aku serius! Kita dapat amnesti internasional. Tahun 1979 ini seluruh tahanan dapat ampunan,” lanjut Ragil meyakinkan. Dia tetap berbisik. Kali ini matanya membelalak menatap Bujang Parewa dalam-dalam guna mempertegas kabar yang dibawa itu benar adanya. Sejurus kemudian, wajahnya yang keriput dimakan usia clingukan menyapu segala arah. Bola matanya berkeliaran memeriksa keadaan.

Mereka berdua, sekamar di Lembaga Pemasyarakatan Candi, Nusa Kambangan. Meski usia bertaut jauh, keduanya berkawan akrab. Persamaan nasib membuat dua laki-laki ini kerap berbagi dalam banyak hal.
Empat belas tahun sebelumnya, paska hura-hara September 1965, Ragil tercerabut dari akar sosialnya. Lurah yang sangat dihormati di Jogjakarta itu ditangkap oleh tentara atas tudingan terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI).

Begitu pula Bujang Parewa. Aktivis Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) ini ditangkap bulan Desember 1965 saat berusia 15 tahun. Kala itu dia masih duduk di kelas 3 SMP.

***

Senin hingga Sabtu, tahanan politik di Nusa Kambangan dipaksa bekerja. Ada yang menjadi kuli kasar membangun ini dan itu. Ada yang berkebun menanam berbagai sayur-mayur, umbi-umbian dan aneka pohon berbuah. Hari Minggu mereka dapat jatah libur.

Selain rutinitas itu, tahanan juga kebagian piket jaga malam. Tugasnya selain mengontrol keamanan juga memastikan gardu listrik tetap beroperasi dengan baik. Piket jaga malam ini dibagi bergiliran. Dalam seminggu, seorang tahanan kebagian sekali.

Lain halnya dengan Bujang Parewa. Dia piket malam dua kali dalam seminggu. Bukan karena tambahan hukuman, melainkan menggantikan tugas Pak Ragil yang sakit-sakitan. Sebetulnya Pak Ragil tak pernah meminta tolong agar tugasnya digantikan. Bujang Parewa-lah dengan kesadaran penuh menawarkan diri. “Bapak istirahat saja. Tak baik berjaga malam.”

Di kamar itu Bujang Parewa dipercaya sebagai palkam-sebutan untuk kepala kamar. Dialah yang bertanggungjawab atas apapun yang terjadi di kamar yang dihuni 21 orang tahanan politik dari berbagai kota.
Bila melihat orang tua berambut putih itu kedinginan dan batuk-batuknya kumat di malam hari, Bujang Parewa seringkali berbagi selimut. Tak hanya itu, dia juga kerap memijit Pak Ragil.

Semua dilakukannya dengan senang hati. Tanpa ada embel-embel apapun. Bujang Parewa selalu ingat dengan nasehat ibunya yang mengingatkan agar selalu ikhlas melakukan apapun dan senantiasa membantu orang yang butuh pertolongan.

***

“Nih…ada titipan surat buat kamu Parewa,” tutur Pak Ragil seraya menyodorkan secarik amplop berbungkus rapi. Parewa sedikit terheran-heran, “dari siapa ya?” gumamnya bertanya pada diri sendiri. Surat itu disambarnya dan dipatutnya lama-lama. Setelah dibolak-balik beberapa kali, surat itupun dibuka perlahan.
Melalui surat, Pak Ragil rupanya menceritakan segala yang dialami di Nusa Kambangan kepada keluarganya di Jogjakarta, termasuk kisah tentang perlakuan Bujang Parewa. Hal itu diketahui Parewa ketika membaca surat yang dikirim Sri, anak perempuan Pak Ragil.

Beberapa hari kemudian, saat hendak berkirim surat ke Jogja, Pak Ragil bertanya, “Parewa, mau nitip surat ndak buat adekmu di Jogja?” “Oiya, tentu. Tunggu sebentar,” sahut Parewa.

Hari demi hari telah berlalu. Senin hingga Sabtu tahanan tetap melakukan rutinitas seperti biasanya. Nguli dan berkebun. Minggu libur. Hanya saja kini Parewa punya tambahan kerjaan baru, yakni berbalas-balasan surat dengan Sri. Surat yang dikirimnya selalu satu amplop dengan surat Pak Ragil. Dalam satu amplop dua surat. Begitu pula surat datang dari Jogja. Satu amplop untuk dua orang, Pak Ragil dan Parewa.
Kini, Parewa sudah tahu paras Sri lewat foto yang dikirim. Gadis yang duduk di kelas 3 SMA itu berparas ayu, menurut Parewa. Keayuan Sri-lah yang menginspirasi Parewa melukis sekuntum bunga di sehelai kertas. Lukisan itu dikirimkan ke Jogja berikut kata-kata penuh rayuan tentunya.

Bukan main senangnya hati Sri menerima kiriman lukisan itu. Bunga itu membuatnya berbunga-bunga. Di tempat terpisah, Parewa-pun berbunga-bunga. Padahal, semenjak kecil Parewa tipikal orang yang tak berani berhadapan dengan perempuan. Jangankan menggoda, bertegur sapapun dia tak bernyali.
Semasa sekolah dulu, tiap berpapasan dengan perempuan dia selalu merunduk. Di jalan, bila berpapasan dengan perempuan di persimpangan jalan, dia memilih menyimpang. Hal itulah yang memunculkan sindiran dari teman sebaya: Parewa jumpa perempuan lansung ciut ibarat kerupuk disiram air.
***
Di Nusa Kambangan banyak hal dipelajari. Penjara tak ubah universitas. Di sinilah Parewa berjumpa Hendra Gunawan, maestro senirupa tanah air yang bersahabat dengan pelukis Affandi. Parewa menaruh minat besar terhadap senirupa. Dia berguru kepada Hendra yang tak pernah pelit berbagi kepandaian.

“Tahanan PKI itu orangnya pintar-pintar dan tidak pernah pelit dengan ilmunya. Jadi, di sini, kalau mau belajar bahasa asing ada gurunya, belajar melukis ada gurunya…” begitu bunyi surat Parewa kepada Sri suatu waktu.

Bermacam hal terkait ilmu senirupa didulang Parewa dari Hendra Gunawan. Dia belajar melukis dan mengukir. Perkakas merupa seperti cat, kain kanvas dan pahat untuk mengukir didapat dari orang-orang yang membesuk.
Berkarya itu berhubungan erat dengan rasa. Setiap manusia tentu punya rasa. Rasa muncul karena pengaruh sekitar. Rasa dingin dan panas dipengaruhi suhu. Rasa jengkel maupun senang juga dipengaruhi hal-hal yang ada di sekitar. Pendek kata, setiap manusia tentu punya rasa. Rasa menangkap keadaan.

Saat muncul rasa ingin kencing, maka segera keluarkan. Muncul rasa ingin buang air besar, segera keluarkan. Kalau tidak dikeluarkan jadi penyakit dia. Begitupula berkarya, saat merasakan sesuatu, terbayang akan sesuatu langsung keluarkan. Tuangkan rasa itu menjadi sebuah karya. Kalau tidak akan berdampak buruk bagi kesehatan jiwa. Jadi hidup ini sebetulnya perkara mengolah rasa.

Petitih itu didapatnya dari Hendra Gunawan yang terkenal dengan lukisan berjudul ‘Pengantin Revolusi’. Hendra adalah pelukis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sebelum di Lekra dia pernah bergabung di Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) yang didirikan S. Sudjojono pada tahun 1937.

Di zaman pendudukan Jepang, Persagi berusaha merealisir seni lukis Indonesia baru dengan semangat menolak estetika seni lukis Mooi Indie yang hanya mengungkapkan keindahan dan eksotisme saja.
Dengan semangat nasionalisme, Persagi ingin membawa seni lukis Indonesia pada kesadaran tentang realitas sosial yang dihadapi bangsa dalam penjajahan. Di samping itu, dia ingin membawa nafas baru pengungkapan seni lukis yang jujur dan empati yang dalam dari realitas kehidupan lewat ekpresionisme.

Tak ayal Persagi jika di ranah senirupa, Persagi ditempatkan sebagai pemberontak estetika “Mooi Indie” yang telah mapan dalam kultur kolonial feodal. Bagi mereka seni adalah implementasi dari perjuangan estetika yang mengandung moral etik kontekstualime dan nasionalisme.
Di Nusa Kambangan, sepertinya tidak beralaku pepatah siapa yang menabur angin dia yang menuai badai/siapa yang menanam dia yang memetik. Para tahanan memang diwajibkan berkebun dari hari Senin sampai Sabtu, tapi memanen tidak bisa sembarangan.
Karena lapar, lantaran minimnya makanan, tak sedikit tahanan yang diam-diam mencuri buah-buahan atau tanaman lainnya. Makanya Parewa membuat lukisan berjudul ‘Mencuri Tanaman Sendiri’.

Banyak pelajaran didapat Parewa di Nusa Kambangan, termasuk belajar melawan rasa takut terhadap perempuan. “Usia bertambah terus. Kalau gini-gini aja kapan punya istri. Jangankan punya istri, pacar aja nggak akan dapat,” pikirnya.

Ketakutan harus dilawan. Mulailah dia bergerilya memantau perempuan-perempuan di Nusa Kambangan. Aw…aw…pilihan jatuh kepada Ratih, anak gadis kepala sipir penjara. Ini dia perempuan paling cantik di sini…
Suatu hari, Kapten Heng, si kepala sipir memerintahkan Parewa menyapu dan mengepel rumahnya. Tak ada tahanan yang berani menolak perintah Kapten Heng. Jadilah Parewa ngesot melantai di kediaman sipir yang dikenal galak itu.

Kebetulan Ratih sedang asyik membaca di ruang tengah. Jantung Parewa berdebar-debar. Ratih tampak asyik dengan bukunya. Dalam hati, Parewa berpikir, ini saatnya mencoba keberanian dengan gadis paling cantik. Kalaupun ditolak tak apa, yang penting coba dulu. Ditolak sama gadis paling cantik apa salahnya.
Sambil ngesot tanpa menegadah sedikitpun, Parewa mendekati Ratih. Semakin dekat…semakin dekat…dan matanya tertumbuk pada betis bunting padi nan mulus. Parewa memberanikan diri menyentuh kaki itu dengan kain pelnya.

“Eh, maaf Neng,” Parewa berbasa-basi dalam kepura-puraan.
“Eh, nggak apa-apa,” Ratih menimpali.

“Nggak sengaja,” kali ini Parewa melirik ke paras Ratih nan aduhai.
Mata bertemu mata. Entah pelet apa yang dimainkan Parewa, bunga desa Nusa Kambangan itu meraih kedua tangan anak muda kita dan menariknya berdiri. Jangan-jangan bunga yang sedang mekar itu rindu akan sentuhan kumbang. Ratih memang kesepian. Dia tak punya teman sebaya.

Merasa dapat angin segar, Parewa langsung melontar kata, “Neng cantik sekali. Mau saya lukis?”
Rupanya sanjungan itu ampuh, kawan. Ratih tergoda.
“Boleh,” katanya tersipu malu.

“Saya pikir Neng sombong, ternyata tak hanya cantik, Neng juga baik hati,” lagi-lagi Parewa melempar rayuan maut. Ratih semakin melambung.
Sepi. Selain mereka berdua tak ada orang lain di rumah itu. Berbekal kertas dan pensil yang diberikan Neng Ratih, Parewa mulai berkarya.
“Hari ini sayalah manusia yang paling bahagia di dunia ini,” gumam Parewa sambil menggambar.
“Kenapa?”
“Bagaimana tidak? Saya bisa berlama-lama menatap gadis paling cantik yang pernah saya jumpai.”
“Ah, Akang bisa aja.”
Semenjak pertistiwa itu, Parewa sembuh dari sakitnya. Dia tak lagi canggung dengan kaum hawa. Makanya, ketika anak Pak Ragil menyurati, dia tak gamang sedikitpun menguntai kata-kata indah penuh rayuan.
***
Amnesti internasional menjadi topik utama. Buah bibir para tahanan politik Nusa Kambangan tak lepas dari itu. Angin segar itu menyejukkan hati Parewa. Dalam hati dia berpikir aku harus meninggalkan kenang-kenangan di sini.

Minggu, setiap hari libur Parewa berjalan sendirian ke Goa Ratu, di daerah Candi membawa perkakas ukir. Tanpa diketahui banyak orang dia membuat totem (memahat batu) di mulut goa. Kepandaian Hendra Gunawan telah turun padanya. Batu itu disulap menjadi tumpukan manusia dengan berbagai ekspresi wajah.
Wajah-wajah itu seolah menatap siapapun yang akan masuk ke goa. Ada yang melotot marah, ada yang berteriak sekeras-kerasnya, ada yang meminta belas kasihan dan lain sebagainya. Totem itu hidup. Sangat ekspresionis. Wajah-wajah itu menggambarkan perasaan orang-orang yang ditahan empat belas tahun di Nusa Kambangan tanpa pernah diadili.
Di Goa Ratu pula, Parewa menemukan dua buah batu mulia yang menurutnya punya kwalitas paling bagus. Yang satu digosoknya sampai mengkilat, satunya lagi diolahnya menjadi sebuah cincin. “Batu ini akan kuberikan pada Sri jika bebas nanti,” gumamnya dalam hati.
Namun sayang seribu kali sayang, totem itu belum rampung betul saat Parewa bebas. Dari Nusa Kambangan seluruh tahanan ditampung di Jogja selama dua hari, baru kemudian dipulangkan ke kotanya masing-masing.
Pak Ragil dijemput keluarganya. Sri ikut serta. Inilah kali pertama Parewa bermuka-muka dengan Sri. Tak sekadar bersalaman. Mereka berpelukan dan bertangis-tangisan. Batu yang memang sudah dipersiapkan diberikan kepada Sri.

***

Jakarta, Mei 2010
NB: Baru-baru ini saya nonton tivi. Kebetulan acaranya mengulas tentang Nusa Kambangan. Dan tivi itu menyorot totem yang saya buat dulu. Dalam siarannya reporter tivi menduga-duga kalau totem itu karya manusia goa yang hidup ribuan tahun lalu. Saya hanya bisa senyum-senyum di depan tivi. Bagaimana dengan Sri, nanti deh lain waktu saya ceritakan…

*) Penulis adalah jurnalis dan pencinta sastra. Seringkali dia dijuluki sebagai Pengabar Jalanan atau Si Tukang Dongeng.

Festival Gunung Salak Kembali Digelar

0 komentar
JAKARTA: Festival gunung Salak 2010 akan dimulai hari ini, Sabtu (16/10), sekaligus menandai peringatan hari pangan sedunia pada tanggal 16 oktober dan hari penghapusan kemiskinan pada 17 oktober.
Ini kali kedua acara dua tahunan ini digelar, setelah sebelumnya dilakukan pertama kali di tahun 2008, dengan melibatkan Institut for Global Justice (IGJ), Perkumpulan Budaya Bumi Bagus, Front Kebudayaan Nasional (FKN) dan Perkumpulan Pemuda Gazella.

Dengan tema “Lestarikan Gunung, Sejahterakan Warga”, panitia berharap bisa mengangkat permasalahan dan potensi gunung Salak serta mengembalikan kearifan lokal masyarakat di sana.
Direncanakan, acara yang berlangsung dua hari ini, yaitu dari tanggal 16 oktober-17 oktober, akan disemarakkan oleh pertunjukan seni, arak-arakan gunung, sinden gunung, pencak silat, gamelan, kesenian tradisional, karnaval, teater, pemutaran film, dan masih banyak lagi.


Kembalikan Potensi Dan Peran Gunung Salak

Dalam siaran pers yang disebarkan kepada media, panitia membeberkan potensi dan sekaligus peranan Gunung Salak bagi rakyat di sekitarnya, seperti keanekaragaman flora dan fauna, pertanian, sumber air, dan lain sebagainya.

Namun, karena kerakusan modal dan pembiaran oleh pemerintah, banyak sekali potensi itu sekarang sudah dirusak oleh datangnya pemodal asing dan domestik untuk mengeruk keuntungan di wilayah ini.
Diperparah lagi dengan adanya pencurian kayu, penambang emas liar, aksi vandalisme para pengunjung, pembuangan sampah secara sembarangan, dan perburuan liar satwa yang dilindungi di Taman Nasional Gunung Salak dan Halimun.

Dalam banyak kasus, situasi ini membawa dampak buruk bagi ekosistem dan kehidupan masyarakat sekitar. Seperti pada setiap musim kemarau, masyarakat di kaki gunung salak ini kekurangan air bersih.
Selain itu, akibat penyempitan lahan pertanian di kaki gunung ini, pasokan pangan untuk wilayah Jabotabek semakin menipis.

“Dengan mengembalikan semangat gotong royong, maka potensi dan peranan gunung Salak bisa dikembalikan seperti sedia kala,” kata panitia.

Minggu, 10 Oktober 2010

Review Film Dokumenter ‘South of The Border”, Karya Oliver Stone

0 komentar

Oleh : Mankh (Walter E. Harris III)--Axis of Logic

Bukan hal yang mengherankan jika ada yang sebuah film dokumenter berani mengungkapkan kebodohan dan penentangan terhadap media mainstream, maka anda boleh menebak bagaimana nasib film itu. Ya anda benar, film itu akan dihujat habis-habisan oleh media mainstream itu sendiri termasuk (paling tidak saat ini) oleh The New York Times pada rubrik budaya. Jika anda ingin mendapatkan pengantar yang baik mengenai apa yang sedang terjadi di Amerika Latin, sebaik anda mendengar langsung dari para pemimpin di kawasan itu, maka film ini pantas menjadi rujukan.

Salah satu segmen pembuka film ini menampilkan adegan The Daily Show dengan gaya komedi yang elegan, kebodohan Fox TV News. Seorang penyiar berita (memunculkan tokoh yang berambut pirang dan tampak bodoh) melaporkan bahwa Evo Morales, Presiden Bolivia pertama yang berasal dari suku Indian, mengunyah “cocoa” setiap hari, dan sangat mungkin ia menjadi kecanduan. Kemudian, teman penyiar laki-laki disampingnya memberitahukan kalau itu adalah “coca”—dan mereka semua tertawa tertahan seolah sedang mengunyah cocoa, mirip model di produk Swiss Miss.

Coca adalah obat perangsang herbal alami dan telah menjadi bagian dari kultur rakyat Bolivia; sedangkan, kokain dibuat dari coca yang telah diproses. Dari tayangan singkat ini, seseorang dapat mengetahui bagaimana berita-berita mainstream berupaya untuk membelokkan fakta, dalam kasus ini, seperti mengatakan bahwa jika Obama pergi ke Dunkin Donut setiap hari, maka dia akan kecanduan amphetamine (semacam obat untuk mengurangi depresi).

Sementara itu, di Pachamama (bahasa Bolivia untuk Ibu Pertiwi), melalui filmnya Oliver Stone “South of Border” memberikan pandangan personal dan sangat dekat terhadap pemimpin-pemimpin di Amerika Latin, khususnya terhadap Hugo Chavez yang selalu dianggap sebagai “setan” oleh media barat dan pemerintah Amerika Serikat , namun dia begitu populer ditengah rakyat Venezuela; terpilihnya Chavez untuk kedua kalinya membuktikan kalau dia bukan seorang dikatator.

Diakhir film ini, Stone bertanya kepada Rafael Correa, Presiden Ekuador, apakah berita negatif yang selalu datang dari media Amerika Utara mengganggu dia. Sambil berkedip mata, Correa berkata kalau dia akan lebih berwaspada jika mereka (media Amerika Utara) berbicara baik tentang dia.

Karena banyaknya potongan tayangan, khususnya potongan berita dari Fox dan CNN, maka akan semakin menyegarkan dan membuka pikiran kita jika mendengarkan langsung dari para pemimpin yang terpilih khususnya yang telah terpilih untuk kesekian kalinya. Film ini menampilkan: Hugo Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia), Lula da Silva (Brasil), Christina Kirchner (Argentina) dan suaminya yang juga mantan presiden nestor Kirchner, Fernando Lugo (Paraguay), Rafael Correa (Ecuador), dan Raul Castro (Cuba). Selain mengetahui bahwa tokoh-tokoh ini bukan hanya memiliki kualitas pendidikan yang baik, film ini juga memberi pemahaman dan penjelasan yang memadai mengenai berita yang kita konsumsi setiap hari tentang kawasan Amerika Latin. (ketika review ini ditulis, Correa, Presiden Ekuador, baru saja berhasil melewati upaya kudeta, dan Brasil sedang melakukan pemilihan presiden pada tanggal 31 oktober untuk menggantikan Lula)

Revolusi Bolivarian

Sehubungan dengan mengglobalnya isu terhadap hak-hak masyarakat adat, maka film dokumenter “South of the Border” ini menjadi sangat penting, karena Amerika Selatan menjadi landskap politik yang mengangkat “lokalitas” sebagai spiritnya. (Stone memfokuskan dokumentasinya terhadap Amerika Selatan ditambah Kuba, lebih luas dikenal sebagai Amerika Latin). Pemerintahan dikawasan ini mewakili spirit demokratis, sosialistis dan komunalisme yang banyak diinspirasi oleh Simon Bolivar. Frasa “kepemilikan bersama” memang akan membuat “orang-orang utara (northerner)” menggaruk-garuk kepala. Dan seperti judulnya, film ini memang bertujuan untuk mengubah cara pandang orang-orang di “utara” mengenai kawasan ini.

Sebuah buku yang menarik dengan judul, “New World of Indigenious Resistance: Noam Chomsky and Voices from North, South, and Central America,” melihat bahwa “comunalidad” dan “interculturalidad,” seolah menjadi kata yang tidak dapat diterjemahkan, hingga kemudian buku ini lebih lanjut memberikan eksplorasi tentang maksud dua kata tersebut dengan uraian yang menarik tentang kehidupan masyarakat di kawasan Amerika Latin sehari-hari. Meski kultur barat melihat kemajuan dari perspektif individual, namun sebaliknya rakyat Amerika Latin tumbuh dengan sebuah rasa kebersamaan yang terpatri didalam jiwa mereka. Dalam bukunya, Grimaldo Rengifo Vasquez menulis, “Menurut orang Andes, komunitas dipahami sebagai “allyu,” kolektivitas yang tidak hanya terdiri dari manusia namun juga dunia diluar manusia yaitu alam dan para dewa.” Ini bisa kita sebut sebagai konsensus yang holistik. Suku Indian Amerika di Pulau Penyu (Turtle Island), salah satu wilayah di Amerika Serikat, yang patut menjadi contoh bagaimana mereka mempraktekkan spirit “communalidad” dalam kehidupan sehari-hari.

Kutipan berikut akan membantu kita untuk memahami kondisi terkini Revolusi Bolivarian dalam sebuah perspektif: “meski merupakan seorang katolik taat, dia (Bolivar) adalah salah seorang pahlawan Amerika Latin yang menolak untuk tunduk terhadap sikap reaksioner pihak gereja…pada tahun 1829 Bolivar menulis: “Tidak ada kebajikan yang telah saya raih kecuali kemerdekaan. Itulah misi saya. Bangsa yang telah saya dirikan, setelah sekian lama tertindas dan menderita, akan menjadi gerhana dan kemudian muncul sebagai Negara republik yang besar, Amerika.” 1

Apa yang terjadi saat ini, seperti yang digambarkan di film ini, terlihat merupakan bagian dari upaya untuk membangun “satu republik besar.”

Terdapat beberapa adegan kekerasan, misalnya, potongan tayangan kudeta yang diback-up oleh media terhadap Chavez, yang akhirnya gagal. Penonton yang mudah terkejut oleh tayangan kekerasan akan memalingkan wajah melihat tayangan aksi protes yang berakhir rusuh ini.

Salah satu pelajaran penting yang dapat saya (red:pengulas) ambil dari film ini yaitu kesadaran tentara Venezuela untuk menolak bertindak tanpa permintaan dari pemerintah, berusaha untuk memajukan Revolusi Bolivarian dengan mempertegas kesetiaan terhadap Chavez. Padahal bukankah tentara adalah perantara utama dalam arena yang disebut perang?

Meski tidak diungkapkan dalam film ini, pada pertemuan pertama Konferensi Masyarakat Dunia terhadap Perubahan Iklim dan Hak Ibu Pertiwi (The First World People’s Conference on Climate Change and the Rights of Mother Earth (WPCCC), tanggal 19-22 April 2010, bertempat didekat Cochabamba, Bolivia, Presiden Evo Morales menilik situasi global saat ini yang semakin serius, menyatakan (terjemahan), “Kita hanya memiliki dua jalan, Ibu Pertiwi atau mati. Kapitalisme atau Ibu Pertiwi yang akan mati.”2 Di pertemuan ini Morales berbicara banyak hal meski biasanya ia lebih diplomatis dan non-konfrontatif.

Untuk topik ini, Oliver Stone berpendapat bahwa terdapat dua bentuk kapitalisme, ganas dan jinak. Kemungkinan kapitalisme yang jinak itulah dengan keputusannya bersama Pachamama dapat membantu masyarakat dunia menghindari kematian.

Lebih dekat dan melampaui individu

Kepada Stone, Chavez menyatakan bahwa alasan utama atas apa yang terjadi di Irak dan terhadap Saddam adalah “petroleo! (terj:petroleum),” yang juga banyak terjadi di Venezuela. Dapatkah ini menjadi alasan bagi propaganda hitam media Amerika Utara terhadap Presiden Venezuela? Chavez menggambarkan bahwa semua bentuk pergerakan yang dilakukan Venezuela disebutnya sebagai sebuah “revolusi damai’ namun tetap bersenjata,” yang saya (red:pengulas) terjemahkan sebagai bentuk persiapan untuk pertahanan diri, dalam hal ini memang dibutuhkan pendirian yang teguh.

Satu hal yang pantas untuk dipelajari bahwa hampir semua interview berjalan dengan sangat sederhana dan ramah. Nestor Kirchner (Argentina) menekankan aspek komunal dengan pernyataannya bahwa wajah pemimpin serupa dengan rakyatnya. Dan Cristina Kirchner (Argentina) membenarkan hal itu, “Untuk pertama kalinya di kawasan ini, para pemimpin terlihat seperti rakyat yang mereka pimpin.” ungkap Christina.

Sementara Raul Castro, ketika ditanya oleh Stone tentang peran Fidel Castro di Kuba, menyatakan bahwa tiap pemimpin, di tiap Negara memiliki kuasa dan rujukan masing-masing, meski mereka semua tetap saling berhubungan.

Correa, yang telah menolak memperbarui kontrak pangkalan udara Manta milik Washington, menyatakan bahwa satu-satunya cara agar pangkalan udara AS tetap bertahan di Ekuador, adalah jika Ekuador diizinkan untuk memiliki satu pangkalan yang ada di Florida.

Salah satu contoh praktek “comunalidad” yang nyata adalah di Venezuela dimana dewan-dewan komunitas menerima uang pemerintah dan dan mereka dapat berbuat apa saja dengan itu, misalnya, memperbarui sistem saluran air. Ini adalah bentuk kepercayaan pemerintah terhadap rakyatnya, sesuai dengan ungkapan seorang Taoist terkenal, Lao-Tzu yang mengatakan bahwa seorang pemimpin dikatakan baik ketika apa yang dilakukannya membuat rakyatnya selalu merasa sedang merawat diri sendiri.

Mengikuti Pemutaran Trail Dokumenter

Di salah satu teater tempat para penonton menyaksikan film ini, acara dimulai dengan kata pengantar oleh Bart Jones, seorang jurnalis dan pengarang “Hugo!: The Hugo Chavez Story from Mud Hut to Perpetual Revolution.” Jones menyebutkan Simon Bolivar sebagai cahaya penerang bagi kawasan dan pergerakan, dan menemukan salah satu sumber korupsi modern di Venezuela sampai sekitar tahun 1920 – ketika sumber minyak pertama kali ditemukan. Jones berpengalaman sekitar 8 tahun sebagai koresponden asing untuk AP dan tinggal di Venezuela ketika menyelesaikan bukunya.

“South of The Border” ditulis oleh Tariq Ali dan Mark Weisbrot, jadi anda dapat mengeksplor banyak hal dari para penulis ini untuk mempelajari banyak hal. Di film ini, Tariq Ali menyatakan kekhawatirannya bahwa populasi Hispanik di Amerika Serikat akhirnya akan terpengaruh dengan apa yang sedang terjadi di Amerika Latin.

Singkatnya, apa yang ditampilkan oleh Oliver Stone telah memberikan sisi menarik dan menjanjikan dari kawasan Amerika Latin, dan mungkin lebih banyak lagi hal lain yang lebih menjanjikan untuk dieksplorasi. Beberapa mungkin berpikir bahwa film ini hanyalah bantahan sederhana terhadap propaganda media-politisi-korporat terhadap pemimpin-pemimpin di Amerika Latin. Di satu sisi, betul, saya (red:pengulas) berpikir film ini adalah bantahan penting dan positif, memberi pelajaran penting bagi masyarakat di luar kawasan untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi di kawasan Amerika Latin. Chavez kita hargai karena telah “membantu” banyak orang keluar dari jurang kemiskinan, meski masih begitu banyak hal yang mesti dilakukan untuk tetap berada digaris ini. Mengurangi angka kriminalitas adalah salah satu aspek penting untuk diperhatikan, menurut Jones.

Wawancara dan keseluruhan film dokumenter ini lebih penting dari sekedar tema seputar baik vs jahat (good vs evil), karena para penonton, sebagai saksi, bebas menentukan keputusannya masing-masing. Sepertinya kata-kata sedang terucap ketika memperhatikan bahasa tubuh dan ekspresi wajah dari penonton, seseorang bisa merasakan kesan langsung yang biasanya didapatkan hanya melalui kerasnya pengeras suara. “South of the Border” pasti akan memberimu sesuatu untuk dikunyah.

Catatan:

  1. “The Secret Destiny of America” Oleh Manly P. Hall, termasuk kutipan dari Simon Bolivar, oleh Gerard Masur
  2. “”Bolivia hosts alternative summit on people and Mother Earth” oleh W.T. Whitney Jr.

*) Artikel ini sudah dimuat sebelumnya di :

http://axisoflogic.com/artman/publish/Article_61299.shtml



Jumat, 08 Oktober 2010

Seni Rupa Pembebasan

0 komentar
Seni Rupa Pembebasan

”Saya tidak mau abstrakkan lagi. Rakyat Kita lapar. Lapar itu riil, tidak abstrak. Mereka ingin nasi. Nasi yang riil, yang kongkret yang tidak abstrak, yang bisa bikin perut mereka kenyang, kenyang yang riil, yang tidak abstrak.” S. Sudjojono
Keindahan dari karya seni rupa ditentukan oleh bagaimana sang perupa menarik garis di kanvas, tembok, bak truk, penutup roda becak, billboard dan sebagainya. Garis keindahan ada pada garis yang tegas untuk membebaskan setiap individu secara kolektif dari penindasan baik yang berupa fisik maupun dalam tataran nilai. Medan kebudayaan termsuk di dalamnya seni rupa, merupakan medan pertempuran bagi kepentingan penindas berhadapan dengan perlawanan kaum tertindas diseluruh dunia, maka jelaslah bahwa seni rupa pembebasan merupakan lawan dari garis berkarya yang menghamba Kepada kepentingan penindas serta seni rupa yang mengagungkan absurditas dalam abstraksionisme yang tak lebih dari ritual onani dengan mengatasnamakan kebebasan individu sebagai hak asasi nan hakiki, sedangkan hak lainnya boleh diinjak-injak.
Konsepsi garis pembebasan
Meminjam perumusan dari sebuah Lembaga kebudayaan Rakyat yang pernah berjaya di jamannyam, LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang kemudian semakin dipertegas oleh CC PKI melalui pidato D.N. Aidit, bahwa peranan seni dan sastra demikian krusialnya dalam menuntaskan tahapan-tahapan revolusi, pada KSSR (Konferensi Nasional Seni dan Sastra Revolusioner) di bulan Agustus dan September 1964, seni (termasuk seni rupa) yang baik adalah seni yang ‘meluas’ dan “meninggi empat mutu”.
Pertama Tinggi teknik. Pekarya sebaiknya memiliki skill yang mumpuni dalam berkeseni rupaan baik dalam komposisi, teori warna hingga anatomi yang benar. Tinggi kedia adalah tinggi estetis. Karya harus dapat menggerakkan kesadaran pemirsa kedalam sebuah bentuk perasaan yang diinginkan. Selanjutnya yang lebih penting adalah tinggi ideologi. Disini kita bicara tentang pemahaman ideologi pekerja seni yang membentuk warna dari karya yang diciptakkannya. Maka untuk membebaskan Rakyat dari ketertindasannya, sang perupa harus memiliki kesadaran anti kapitalisme serta anti feodalisme.
Puncak dari pencapaian seni rupa pembebasan (lukisan, poster, drawing, mural, vignet, karikatur dan kartun) adalah apabila sebuah karya dapat merekam, melukiskan serta memberikan solusi dari persoalan pada realitas sosial politik uang ada. Bukanlah dictum yang sulit digugat namun tanpa harus menjadi dogma bahwa “realitaslah yang membentuk kesadaran, bukan sebaliknya kesadaran yang membentuk realitas”, benar adanya. Sebab apabila tidak, maka bagaimana sebuah keadaan membutuhkan perubahan apabila tiada tuntutan untuk berubah, demikian pula sebaliknya bagaimana mungkin penindasan yang memuncak tiada memupuk perlawanan bak teori fisika pegas, semakin ditekan, semakin kuatlah daya tolaknya. Maka seni rupa pembebasan akan mengabdi Kepada realitas sosial politik yang ada akan melantingkan perlawanan untuk terbebaskannya rakyat tertindas. Dengan demikian seni akan mulai apabila dapat menjadi alat perang dalam membebaskan rakyat dimanapun di seluruh penjuru Bumi.

Sejarah Seni Rupa Pembebasan Dunia

Sejak “sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang”, maka penulisan sejarah seni rupa dunia hanya berkutat mengulas tentang perkembangan seni rupa dalam alam feodalisme dan borjuasi. Penulisan ini tidak dealiktis dan hanya berkembang dalam logika teori modernisme. Sejak penindasan terjadi di bawah langit maka seni rupa dimanfaatkan oleh kaum penguasa yang menindas dan tentunya seni rupa pembebasan berada dipinggiran.
Pada zaman bercorak produksikan pertanian, seni rupa digunakan untuk menggambarkan keperkasaan raja dan agama para Fir’aun Mesir Kuno pada dinding-dinding jeroan pyramid, Mesopotamia, China, India, dinding-dinding chapel di Italia dan sebagainya. Masa Feodalisme baranjak petang, lalu kaum borjuis merebut kuasa dalam corak produksi industri massal. Corak produksi massa Rakyat yang demikian melahirkan berjuta kaum pekerja yang teralienasi dan terhisap. Cepat atau lambat pemikiran Marx atau Marto atau siapapun akan melahirkan pisau analisa yang tajam dan filsafat untuk bagaimana merubah sejarah lebih dari hanya menganalisa sejarah membuahkan perlawanan kaum buruh di seluruh dunia sejak abad ke-18. Revolusi meledak di mana-mana. Kutu ideology dalam seni rupapun semakin menajam. Revolusi Rusia dilahirkan sekaligus melahirkan seni rupa pembebasan dengan pekerja-pekerja seni seperti Mayakowski dan Bashov, Meshanikov. Poster-poster pengobar revolusi Rusia melalui tangan mereka mewabah di berbagai revolusi diberbagai belahan dunia lainnya.
Di Jerman seni rupa melahirkan George Grosz dan Kthe Kolwiz. Grosz …………….anda rasakan” . Sepulangnya dari masa pengasingan pada tahun 1921 ia bergabung dengan Partai Komunis Mexico dan aktif menulis untuk terbitan partai El Machete dan tentu saja berkarya mural mengenai sejarah pembebasan Rakyat Mexico pada dinding istana kepresidenan yang terbuka untuk umum dan ruang-ruang publik lainnya.
Seni Rupa di Indonesia
Di Indonesia, seni rupa pembebasan termassalkan semenjak seni rupa modern yang diadopsi dari Eropa oleh PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), organisasi yang diketuai oleh Agoes Djaja dan S. Sudjojono sebagai sekretaris, sedangkan anggotanya seperti Soekarno, S. Toetoer, Abdul Salam, Surono, Otto Djajasuminta dan lainnya yang berlatar belakangkan pelukis reklame pada tahun 1938. “Di Depan Kelambu” karya Sudjono dengan realisme yang kuat melukiskan kehidupan keras yang nampak asing dibanding genre yang sedang ‘in’ saat itu. Mereka melabrak aliran Mooi Indie yang hanya melukiskan keindahan alam sebagai souvenir bagi pra pekerja imperialis apabila pulang kampung ke Eropa, seolah keelokkan Pertiwi adalah sebuah eksotisme yang pasrah menggiurkan untuk dijarah, tidak ada darah tercecer di sana, tidak ada perlawanan, semuanya serba damai.
Perang Pasifik pecah, pasukan Jepang membabat imperialis Belanga sekaligus menggerus rakyat Indonesia lebih kejam lagi. Empat serangkaian nasionalis, Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H. Masykur membentuk PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) dimana para pekerja seni rupa berkumpul dengan varian ideology yang menjadi tandingan dari Keimin Bunka Sideiso pusat kebudayaan Jepang. Mereka mengadakan serangkaian pameran tunggal, Sudjojono mengkritisi karya yang dianggapnya hanya meninggikan estetik semata dari pada semangat tinggi ideologi pembebasan apalagi tinggi politik. Ketika pameran tunggal Basuki Abdulah sang pelukis kesayangan Soekarno. Kemudian terjadi pertengkaran sengit ia dan Soekarno, saat itu juga ia meninggalkan PUTERA.
Affandi adalah sebuah tonggak pencapaian seni rupa pembebasan tiada tara pada jamannya. Semenjak bergabung ke dalam PUTERA tak putusnya ia melahirkan karya-karya monumental mulai dari berupa cat minyak, poster, maupun mural (lukisan dinding) dalam memutarbalikan propaganda kebudayaan Jepang sebagai pemimpin Asia seperti pada karyanya yang berjudul “Tiga Pengemis” yang sangat realis dalam penggambaran penderitaan rakyat Indonesia yang kurus kering pada pamerannya di tahun 1943. Ketika dalam revolusi fisik mengenyahkan kolonial Belanda poster-posternya seperti gambar seorang pemuda pejuang yang berteriak “merdeka!” atau poster “Bung ayo Bung!” dimasalkan oleh para pelukis muda lainnya untuk menyemangati para lascar untuk membakar heroisme untuk bersambung nyawa demi kemerdekaan.
Setelah revolusi Agustus 1945, para perupa pembebasan melebur diri di bagian kesenian API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang bermarkas di gedung Menteng 31 Jakarta. Mereka keluar masuk kampung untuk mewabahkan garis mereka melalui poster, coretan di dinding gang, gerbong kereta api dan trem, sambutan meriah dari rakyat ada di pihak mereka. Ketika pemerintah RI harus berpindah ke Yogya, merekapun turut hijrah dengan mengabungkan diri pada Front Kerawang Cikampek diantara desing peluru turut angkat senjata menegakkan kemerdekaan. Dari berbagai pengalaman berkarya dalam medan revolusi, Sudjojono merangkumkan pemikirannya yang dapat kita sebut sebagai konsepsi awal seni rupa pembebasan dalam sebuah kumpulan tulisan berjudul “Seni, seniman dan seni lukis” (1946)
Sudjojono adalah figure sentral bagi mengeloranya seni rupa pembebasan di tanah air. Dari karya-karyanya, keyakinan ideologisnya serta sepak terjangnya dalam revolusi ia pula yang memerahkan warna SIM adalah bentuk kongkrit konsep pembebasan. Pada awal tahun ’50-an secara terang-terangan ia bergabung dengan PKI dan menjadi anggota DPR. Pemikirannya kemudian semakin disempurnakan oleh Lembaga Seni Rupa Pusat (LESRA) LEKRA. Era LEKRA adalah bom seni rupa pembebasan di tanah air. Pelukis-pelukis seperti Trubus, Hendra Gunawan, Basuki Reksobowo, Suromo, Joko Pekik, Bramasto dsb. Berada dalam orbitnya. Kelompok seperti Bumi Tarung, Kleting Kuning hingga Lesbumi milik NU atau LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) yang berpayung pada PNI pun tidak menolaknya.
Perang dingin menggiring kekuatan kiri ke ’rumah penjagalan’, tidak luput bagi para pekerja seni budaya untuk turut tersapu. Kata pembebasan kemudian sekarat lalu digantikan dengan kata seni rupa baru, Pop Art, Posmo atau apapun yang bernafaskan modernitas barat asalkan tiada ’warna merah’ di dalam bingkai. Politik memenangkan seni rupa pada masa Orde Baru sangat rapi tersusun. Infrastruktur mulai dari galeri, kurator, hingga terbitan dan media propaganda lainnya sangat terkontrol untuk memastikan bahwa seni rupa hanya bicara tentang humanisme borjuis. Paling banter mempertentangkan Timur-Barat yang mencuatkan Gerakan Seni Rupa Baru dan seorang Jim Supangkat. Hingga suatu ketika penderitaan rakyat tiada tertahankan dibawah sepatu lars Orde Baru memuncratkan gerakan mahasiswa tahun ’80-an dan ’90-an. Degup ini mengobarkan pembebasan sekali lagi di medan seni rupa dengan menitis pada semangat berkaryanya Semsar Siahaan, Mulyono, Yayak Kencrit yang kebetulan bersinggungan dengan gerakan mahasiswa saat itu. Konsepsi politis dan gaya drawing hitam-putih Grosz dan Kathe Kolwitz di tangan Semsar menjadi ’Tanah untuk Rakyat’, ’Api Revolusi’, ’Perang untuk Keadilan’ dll. Gerakan itu sempat mencuat, lalu dipukul dan melebar di bawah tanah dan sebagian lari keluar negeri. Hingga realitas ekonomi politik nasional maupun internasional menetapkan tahun 1998 sebagai runtuhnya rezim Orba.
Paska reformasi, garis Pembebasan kemudian menyeruak ke permukaan dalam bentuk lembaga kebudayaan Taring Padi gaya Grosz dan Semsar yang setia. Lalu mereka kembangkan dengan menggunakan media baliho besar kemudian berwarna, akhirnya seperti kita ketahui mainstream seni rupa pembebasan di tanah air identik dengan Grosz-Semsar-Taring Padi. Menggunakan media terbitan bergambar Terompet Rakyat dan seri poster cukil kayu, kelompok ini sangat berpengaruh di kalangan para pekerja seni dari lingkungan akademis hingga kelompok-kelompok otodidak independen seperti Kelompok Rakyat Biasa, Nurani Senja, Serikat Pemuda Merdeka dan Sanggar Caping. Sedangkan JAKER diwakili Kuncoro Adi Broto demi merespon politik praktis yang cepat berubah figur maupun kontelasinya, memilih untuk mengembangkan konsep kartun revolusioner kombinasi antara gaya Yayak Kencrit dan Grosz. Kelompok-kelompok lain yang bisa disebut di Bandung diwakili oleh kelompok Gerbong Bawah Tanah, Di Solo KS3 (Kelompok Seniman Sejinah).

CHAT

Aksi Persatuan Oposisi Nasional setahun SBY-Budiono I

Aksi Persatuan Oposisi Nasional setahun SBY-Budiono II

Persatuan Oposisi Nasional seratus tahun SBY-Budiono 3

histate

BUKU TAMU


ShoutMix chat widget

PENGUNJUNG

PRD(Partai Rakyat Demokratik)

PRD(Partai Rakyat Demokratik)
Logo

Pengunjung

free counters

Natalie Cardone - Hasta siempre

Aksi Bangjaya Memprotes Banjir dan Kamacetan Di Jakarta

TIDUR JANGAN