BLOG RESMI MEDIA PENCERAHAN
BERSATU BERJUANG untuk DEMOKRASI dan KESEJAHTERAAN

KAMUS

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label TOKOH PENCERAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH PENCERAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Oktober 2010

Charlie Chaplin dalam pergerakan Indonesia

0 komentar


Karena sangat jarang melihat sejarah perjuangan nasional dari sudut co (coperatie/kerjasama), maka kita kurang mendengar nama seorang tokoh nasional yang sangat piawai berpidato,  yang sering disebut sebagai Charlie Chaplin-nya Jawa. Namanya Singgih, salah satu tokoh penting Boedi Utomo (BO).
Namanya kurang dikenal dalam sejarah pergerakan nasional. Setidaknya, dalam pencarian mesin google, sangat sedikit sekali informasi mengenai orator yang sering mendapat sambutan gemuruh ini.
Singgih adalah tokoh nasionalis sangat terkenal saat itu. Meskipun dia bergabung dengan Budi Utomo yang moderat, namun ia dijuluki sebagai “banteng’ di dalam organisasi para ambtenar dan priayi itu. Singgih belajar ilmu hukum di negeri Belanda, dan menjadi bagian dari Perhimpunan Indonesia di sana.
Sekembalinya di Indonesia, ia langsung menjadi seorang nasionalis yang cenderung memilih jalan non-koperator, dan menyesalkan tindakan Soetomo yang melirik kedudukan di Volksraad.
Bersama Radjiman, di Solo, dia mendirikan majalah “Timboel”, yang berisikan artikel-artikel moderat mengenai politik, ilmu pengetahuan, dan agama. Dengan menggunakan majalah ini pula, Singgih melancarkan tuduhan bahwa Haji Agus Salim, seorang tokoh pergerakan dari kelompok konservatif, telah menjadi penyusup atau mata-mata untuk kepentingan Belanda. Singgih menuding Haji Agus Salim menerima pembayaran sebesar 1.700 gulden.
Lantas, kenapa Singgih disebut sebagai “Charlie Chaplin”-nya Jawa? Ia adalah seorang ahli pidato yang baik, dan setiap pidatonya mendapat sambutan tepuk tangan yang bergemuruh. Gaya pidatonya adalah humor, yaitu dengan mewarani pidato-pidatonya dengan lelucon. Karena itulah dia mendapatkan gelar “Charlie Chaplin dari kalangan politik”. Pernah suatu hari, tepatnya 30 Agustus 1928, saat menaiki podium kongres PPKI, para hadirian lantas berseru, “Ayo, Charlie!” begitulah akhirnya dia semakin akrab di panggil.
Pada saat itu, dengan sebagian besar rakyat Indonesia masih buta huruf, maka kepiawaian berpidato menjadi modal utama berproganda kepada rakyat. Jaman itu melahirkan banyak sekali ahli pidato, salah satunya, adalah Soekarno, anak didik dari ahli pidato paling ulung dan disegani oleh Belanda, HOS Tjokroaminoto.
Soekarno sendiri pernah melukiskan kepiawaiannya gurunya berpidato, yaitu seperti burung kenari yang bernyanyi. Konon, kemampuan berpidato Tjokroaminoto sanggup menghipnotis para pendengarnya.
Singgih sendiri dimasukkan sebagai tokoh lapis dua diantara tokoh-tokoh politik yang sering memimpin rapat-rapat akbar (vergadering).  Selain menjadi anggota Budi Utomo, Singgih terdaftar sebagai anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) cabang Yogyakarta.
Sikap kerasnya seringkali membuat gerah para pemimpin Budi Utomo, seperti ketika dia menulis manifesto politik Budi Utomo terkait pidato De Graeff pada pembukaan Volksraad. Manifesto itu dibuatnya dengan sangat berapi-api, layaknya sebagai seorang nasionalis yang sedang marah, sesuatu yang bukan gaya dari pemimpin Budi Utomo pada umumnnya.


Catatan:
*) Sebagian besar informasi dalam ulasan ini diambil dari Hans Van Miert, “Dengan semangat berkobar: Nasionalisme dan gerakan pemuda di Indonesia (1918-1930).

Minggu, 17 Oktober 2010

Tom Morello, dia yang benar-benar musisi Revolusioner..

0 komentar
Dalam deretan gitaris terbaik di dunia saat, nama Tom Morello disejajarkan dengan nama-nama seperti Slash (Guns N’ Roses/Snakepit), James Hetfield (Metallica), Jimmy Page (Led Zeppelin), Joe Satriani, Carlos Santana, dan lain sebagainya.

Bukan hanya seorang gitaris, Tom Morello adalah seorang aktivis politik dan “seorang revolusioner’. Kepada Amy Goodman, jurnalis progressif asal Amerika, Tom menceritakan latar-belakang keluarganya. Ibunya, mary Morello, adalah pendiri organisasi anti sensor yang disebut Parents for Rock and Rap. Ayahnya adalah seorang Kenya, sangat aktif dan terlibat dalam perjuangan pembebasan nasional negeri itu. Jomo Kenyatta, presiden pertama Kenya dan sekaligus pendiri negeri itu, adalah pamannya dan sering mengajarinya soal politik. “Anda tahu, saya memasang foto Jomo Kenyatta di dinding saya,” katanya.

Dia juga mengaku memiliki buku Kwame Nkrumah, pemimpin dan pejuang pembebasan nasional Ghana dan bangsa-bangsa Afrika, disamping manual Guerrilla Warfare-nya Che Guevara, pahlawan kiri yang sangat dikaguminya.

Dari Rage Against the Machine sampai the Street Sweeper Social Club, juga The Nightwatchman sekarang ini, Tom Morello tetap konsisten menjadi musisi paling aktif dalam memperjuangan keadilan sosial dan demokrasi.

Namanya berkibar pada tahun 1991, ketika ia dan Zack de la Rocha mendirikan band bernama “Rage Against The Machine”, band yang dikenal dengan warna musiknya yang kental dengan politik dan perlawanan. Album pertamanya, Rage Against The Machine dirilis pada tahun 1992 dengan sampul kontroversial, yaitu seorang Budha yang membakar diri.

Album kedua RATM, Evil Empire (1996) dengan lagu hit-nya “Bulls on Parade”, semakin melambungkan nama band ini di tangga musik saat itu. Berbagai penghargaan digondol oleh Tom Morello dan kawan-kawan, termasuk Grammy Award. Album lainnya adalah The Battle of Los Angeles dan Renegade.
Namun, sejak tahun 2000, Zack De La Rocha meninggalkan band ini dan pergi entah kemana. Rumor menyebutkan, Zack pergi ke sebuah daerah di Meksiko, yaitu Chiapas, untuk bergabung dengan gerilyawan Zapatista.

Tom Morello sendiri kemudian merekrut bekas vokalis Soundgarden, Chris Cornell, untuk mendirikan band baru, yaitu Audioslave. Salah satu penampilan terbaik Tom Morello dan Audioslave, adalah ketika tampil di hadapan sedikitnya 50.000 rakyat Kuba, di  La Tribuna Antiimperialista José Martí, Havana.


Aktivis Politik

Selain kesehariannya sebagai seorang pemain gitar dan musisi, Tom Morello adalah seorang aktivis politik. Dia adalah anggota dan sekaligus pendiri “Axis Of Justice”, grup politik yang bekerja untuk memperjuangkan hak-hak kaum imigran dan penghapusan hukuman mati.

Keluarga Morello adalah penambang batubara di pusat Illinois, dan nilai-nilai serikat buruh sudah tertanam dalam jiwanya sejak muda. Dia menjadi anggota Industrial Workers of the World (IWW), dan senang sekali menyanyikan lagu “union song” dalam setiap aksi mogok buruh dan perayaan may day.

Lagu “Union Song” ditulis setelah aksi protes menentang Free Trade Area of the America di Miami, tahun 2003. “Diriku bersama Steve Earle dan Billy Bragg, dan beberapa musisi lainnya baru saja disiram gas air-mata, dan kami di sana bermain untuk rally pekerja baja. Saya tidak punya lagu untuk bermain hari ini, sehingga saya harus menulis satu lagu, sementara gas air mata masih terasa di pakaian saya,” katanya menceritakan kejadian itu.

“Jika anda benar-benar menginginkan perubahan, kau harus menciptakannya, kau harus menuntut ini,” kata Tom Morello. Meski begitu, Tom mengatakan, “politik di jalanan adalah sama pentingnya dengan politik dalam kotak suara.”

Dia juga menyanyikan lagu “Alone Without You”, sebagai pengantar film Sicko, karya Michael Moore, seorang penulis dan sutradara film AS yang sangat kritis.
Terakhir, mengomentari pemilu di Brazil, Tom Morello menyatakan dukungannya kepada Dilma Rousseff, kandidat dari partai buruh dan bekas gerilyawan dalam perjuangan melawan kediktatoran di Brazil. “Dilma Rousseff adalah kandidat untuk kaum miskin, kelas pekerja, dan kaum muda. harapanku adalah bahwa kaum muda Brazil memilihnya,” tulis Tom di Twitternya.


“THE NIGHTWATCHMAN”

“Nightwatchman” adalah nama yang dituliskan Tom ketika mengunjungi warung kopi di Los Anggeles dan bermain di hadapan delapan orang. Tidak ada orang yang tahu dia saat itu. Nama ini kembali dipergunakan saat ikut bermain dengan kawannya, Billy Bragg, dalam Tell Us the Truth tour—sebuah konser untuk menentang perdagangan bebas dan melawan dominasi media besar.

The Nightwatchman sudah meluncurkan dua album, yaitu “One Man Revolution’ (2007)  dan The Fabled City (2008). Tom bermaksud menjadikan “The Nightwatchman” sebagai perwujudan pseudo-Bob Dylan di abad 21, namun ia sendiri sering manggambarkan dirinya sebagai “Robin Hood berkulit hitam abad-21 dalam music”.

“One man revolution tour” menggandeng sejumlah musisi lain, seperti Serj Tankian, perry farrell, Jon Foreman, Sen Dog (Cypress Hill), dan gitaris Guns n Roses, Slash. One man revolution juga merupakan reaksi Tom terhadap kebijakan imperialis dari Presiden Bush ketika berkuasa. ‘Ini adalah reaksi terhadap perang illegal dan tak bermoral. Reaksi terhadap penyiksaan dan tekanan terhadap kebebasan sipil. Reaksi terhadap semakin banyak korporasi yang semakin kaya, sementara banyak orang yang mengemis di jalanan,” ujarnya.

Dalam lagu “The Road I Must Travel”, yang bercerita soal anti-kekerasan, anda akan menyaksikan clip video lagu ini akan dipenuhi oleh background gambar sejumlah tokoh, seperti Gandhi, Joe Hill, Che Guevara, Malcom X, Sub Commandante Marcos, Frederick Douglass, Emma Goldman, dan lain-lain.
Sementara The Fabled City, yang dirilis pada tanggal 30 september 2008, berisi keprihatian terhadap badai Katrina dan penjara Guantanamo. Lagu “Midnight in the City of Destruction” sangat terang menceritakan penderitaan korban bencana Katrina di New Orleans.
I lost my guitar, my home, my hope and my good fortune
I lost my grandfather, two neighbors and my friend
I pray that God himself will come and drown the president
If the levees break again
Now we’re standin’ at the crossroads waitin’ for instruction
And it’s midnight in the city of destruction



Pemberi Inspirasi

Dalam sebuah wawancara dengan Z.net, Tom mengakui bahwa dirinya sangat terinspirasi Joe Hill, seorang aktivis, penulis, dan penulis lagu Amerika yang revolusioner. Karya-karya Joe Hill sangat menginspirasinya.
Salah satu perkataan Joe Hill yang paling dikenang oleh Tom Morello adalah; “famplet memberi informasi, tapi musik memberi inspirasi.” “Anda akan menbaca famplet hanya sekali, tetapi anda akan mendengar music lagi..lagi..dan lagi,” kata Tom Morello.

Namun, dia juga mengaku banyak belajar kepada Bruce Springsteen, Bob Dylan, Woody Guthrie, dan Pete Seeger. Ya, tentu saja, selain Kwame Nkrumah dan Che Guevara. Semasa kuliah, Tom juga menjadi pengikut setia Mohandas K Gandhi dan Martin Luther King Jr, dan menjadi inspirasi bagi lagunya “The Road I Must Travel”.

Senin, 04 Oktober 2010

EUGÈNE POTTIER

0 komentar

Oleh : V.I LENIN


(Untuk memperingati 25 tahun meninggalnya*)**

Pada bulan November tahun yang lalu, 1921, telah lewat 25 tahun sejak hari meninggalnya penyair buruh Perancis, Eugène Pottier, pencipta lagu proletar yang terkenal “Internasionale” (“Bangunlah kaum yang terhina”, dst).

Lagu ini telah diterjemahkan kedalam semua bahasa Eropa dan tidak hanya bahasa-bahasa Eropa. Ke negeri manapun seorang buruh yang sedar datang terdampar, karena apapun nasib melemparkannya, betapapun ia merasa dirinya asing, tanpa mengenal bahasa, tanpa orang-orang yang dikenalnya, jauh dari tanah-air, ia telah menemukan kawan-kawan dan sahabat-sahabat melalui nyanyian “Internasionale” yang dikenal.

Kaum buruh semua negeri bersama-sama ikut menyanyikan lagu perjuangannya yang termaju, seorang proletar penyair dan menjadikan lagu itu sebagai lagu proletariat sedunia.

Dan sekarang kaum buruh semua negeri memperingati Eugène Pottier. Isteri dan anak perempuannya masih hidup dalam kemiskinan, sebagaimana pencipta lagu “Internasionale” hidup sepanjang umurnya. Eugène Pottier lahir di Paris pada 4 Oktober 1816. Ketika ia menggubah lagunya yang pertama ia baru berumur 14 tahun, dan lagu itu diberi nama “Hidup Kebebasan!”. Pada tahun 1848 ia ikut serta sebagai pejuang barikade dalam pertempuran besar kaum buruh melawan burjuasi.

Pottier dilahirkan dalam keluarga miskin dan selama hidup tetap sebagai orang miskin, seorang proletar, yang mendapatkan roti dengan mengepak peti-peti, kemudian dengan menggambar pola kain cita.

Semenjak tahun 1840 dengan lagu-lagu tempurnya ia menyatukan diri pada semua peristiwa besar dalam kehidupan Perancis untuk membangkitkan kesedaran kaum yang terbelakang, menyerukan kepada kaum buruh untuk bersatu, memukul burjuasi dan pemerintah burjuis Perancis.

Pada masa Komune Paris yang besar (tahun 1871), Pottier telah dipilih sebagai anggotanya. Dari 3600 suara, 3352 memilihnya. Ia ikut serta dalam semua kegiatan Komune, pemerintah proletar yang pertama itu.

Jatuhnya Komune memaksa Pottier melarikan diri ke Inggris dan Amerika. Lagu “Internasionale” yang terkenal ia ciptakan pada bulan Juni 1871, boleh dikata, pada esok hari sesudah kekalahan bulan Mei yang berdarah . . . . .

Komune ditindas . . . . . , akan tetapi “Internasionale” Pottier menyebarkan ide-ide “Komune” ke semua penjuru dunia, dan sekarang lagu ini mempunyai daya hidup lebih daripada di waktu kapanpun.

Pada tahun 1876, di tempat pelarian, Pottier menulis sajak panjang: “Kaum buruh Amerika kepada kaum buruh Perancis”. Didalamnya ia melukiskan penghidupan buruh dibawah penindasan kapitalisme, kemelaratan mereka, kerja mereka yang berat tak tertahankan, penghisapan terhadap mereka, keyakinan mereka yang teguh akan kemenangan di haridepan dari perjuangannya.

Sembilan tahun kemudian setelah Komune, barulah Pottier kembali ke Perancis dan segera masuk “Partai Buruh”. Tahun 1884 diterbitkan jilid pertama dari sajaksajaknya.Tahun 1887 diterbitkan jilid keduanya dengan judul “Lagu-lagu Revolusioner”.

Sejumlah lagu-lagu lain penyair buruh ini diterbitkan sesudah meninggalnya.

Pada 8 November 1887 kaum buruh Perancis mengantarkan abu jenazah Eugène Pottier ke kuburan Père Lachaise, dimana dikuburkan kaum komunar yang telah gugur ditembak. Polisi melakukan penindasan berdarah dan merampas bendera merah. Orang dalam jumlah yang sangat besar ikut serta dalam pemakaman tanpa upacara keagamaan. Dari segenap penjuru terdengar pekik: “Hidup Pottier!”.

Pottier meninggal dalam keadaan miskin. Tetapi ia meninggalkan warisan suatu monumen yang sungguh-sungguh tak terciptakan oleh tangan manusia. Ia adalah seorang propagandis yang paling besar yang menggunakan lagu sebagai alat. Ketika ia menggubah lagunya yang pertama, jumlah kaum sosialis di kalangan buruh paling banyak puluhan orang. Sekarang lagu yang bersejarah dari Eugène Pottier dikenal oleh puluhan juta kaum proletar . . . . .

* Artikel yang ditulis oleh Lenin untuk memperingati Eugene Pottier, yang ditulis tahun 1912.

** Artikel ini diterjemahkan dari V.I. Lenin Kumpulan Karya, edisi bahasa Rusia, jilid 36, cetakan ke4, Balai Penerbitan Negara Literatur Politik, Moskow, 1957.

“Pravda” No.2, 3 Januari 1913, Tandatangan: N.L.

Dicetak menurut teks dari Suratkabar “Pravda”

Lampiran:

L ‘ I N T E R N A T I O N A L E *

C’est la lutte finale
Groupons-nous et demain
L’Internationale
Sera le genre humain.

Debout! l’âme du prolétaire!
Travailleurs, groupons-nous enfin.
Debout! les damnés de la terre!
Debout! les forcats de la faim!
Pour vaincre la misère et lantre
Foule esclave, debout! Debout!
C’est nous le droit, c’est nous nombre.
Nous qui n’étions rien, soyons tout.

C’est la lutte finale
Groupons-nous et demain
L’Internationale
Sera le genre humain.

Il n’est pas de sauveurs suprêmes:
Ni dieu, ni césar, ni tribun.
Travailleurs sauvons-nous nous-mêmes,
Travailleurs au salut commun.
Pour que les voleurs rendent gorge,
Pour tirer l’esprit du cachot,
Allumons notre grande forge!
Battons le fer quand il est chaud!

E. Pottier

*Sajak “Internasionale” dalam bahasa Perancis ini adalah salinan tulisantangan Eugène Pottier yang dimuat dalam buku “Pyerwi Internasional”, (“Internasionale Pertama”), Bagian 2, 18701876, Balai Penerbitan “Misl”, Moskow, 1965. Terjemahannya kedalam bahasa Indonesia lihat halaman berikut:

I N T E R N A S I O N A L E

Ini adalah perjuangan yang penghabisan,
Marilah kita berkumpul dan besok
Internasionale
Itulah umat manusia.
Bangunlah semangat proletar!
Kaum pekerja, berkumpulah kita pada akhirnya.
Bangunlah! Kaum yang terkutuk di bumi!
Bangunlah! Kaum pekerja-paksa dari kelaparan!
Untuk mengalahkan kemiskinan dan kegelapan,
Kaum budak, bangunlah! bangunlah!
Kebenaran di fihak kita, jumlah di fihak kita.
Kita yang dulu bukan apa-apa,akan menjadi segala.

Ini adalah perjuangan yang penghabisan,
Marilah kita berkumpul dan besok
Internasionale
Itulah umatmanusia.

Tidak ada juruselamat-juruselamat agung:
Bukan tuhan, bukan kaisar, bukan tribun*
Kaum pekerja, marilah kita sendiri menyelamatkan diri kita,
Kaum pekerja, ke kesejahteraan umum.
Supaya pencuri-pencuri mengembalikan barang curian,
Untuk membebaskan jiwa dari penjara,
Nyalakan perapian besar kita,
Tempalah besi selagi ia membara.

E. Pottier

* Tribun: lengkapnya tribunus plebis dalam bahasa Latin; gelar beberapa pejabat Romawi kuno (500300 tahun sebelum Masehi) yang dipilih dari kalangan kaum plebeyus (rakyat jelata) dan bertugas melindungi kepentingankepentingan dan hak-hak kaum plebeyus terhadap kesewenang-wenangan kaum patrisius (bangsawan).

INTERNASIONALE
Saduran Kolektif “Enam Maret” *

Bangunlah kaum yang terhina !
Bangunlah kaum yang lapar !
Mengg’lora dendam dalam dada;
kita berjuang ‘tuk kebenaran.
Hancurkan seluruh dunia lama;
kaum budak, bangun, bangun !
Kita yang kini hinapapa
akan menguasai dunia.

Perjuangan penghabisan, |
bersatu berlawan; | 2 x
Internasionale pastilah di dunia ! |

Tiada mahajuru s’lamat,
Tidak tuhan atau raja.
Kebah’giaan umatmanusia
harus kita sendiri cipta.
Lenyapkan jiwa pembudakan;
rebut kembali hasil kerja.
Kobarkan api, seg’ra tempa
selagi baja membara !

Perjuangan . . . . .

Kitalah kaum buruh dan tani,
Tentarakerja perkasa.

Bumi hanya milik pekerja,
benalu tidak berhak serta.
Cukup sudah darah k’ringat terhisap;
saat pasti akan tiba,
setan siluman musnah lenyap
dan surya cerlang s’nantiasa !

Perjuangan . . . . .

Desember 1971

* Teks ini disusun kembali dengan ejakan Bahasa Indonesia yang disempurnakan. Lagunya lihat halaman berikut.

S A I R I N T E R N A S I O N A L E *

Proeve van vertaling naar Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara)

Bangoenlah, bangsa jang terhina !
Bangoenlah, kamoe jang lapar !
Kehendak jang moelia dalam doenia !
Senantiasa tambah besar.
Lenjapkanlah adat fikiran toea !
Hambaraiat,
sadar, sadar !
Doenia telah berganti roepa,
Nafsoelah soedah tersebar !

Bagi prang penghabisan )
koempoellah berlawan. ! ) 2 X
Serikat Internasionale akan kemanoesiaan.! )

Negeri tindas, hak-hak berdjoesta,
jang kaja teroes hidoep senang;
Orang miskin terisap darahnja;
Taoekah berhakorang.
Djangan soeka lagi terperintah !
Ingat akan persamaan !
Wadjib dan hak tiada berpisah.
Hak wadjib haroes sepadan.

Bagi prang . . . . .

Penindas berfikiran sjaitan;
Selaloe meratjoenkan kita.
Djangan bantoe lajoenja kawan-kawan!
Hai, bersatoelah sesama !
Moesoeh kita mendidik pahlawan,
Dalam golongan kita.
Kepada jang berani melawan,
Kita djatohkan sendjata !

Bagi prang . . . . .

*Teks bahasa Indonesia lagu “Internasionale” ini disalin dari brosur bergambar: “40 Tahun PKI 19201960″, Lembaga Sedjarah PKI dari Departemen Agitasi dan Propaganda CC PKI, Djakarta 1960.

I N T E R N A S I O N A L E *

Bangunlah kaum jang terhina,
Bangunlah kaum jang lapar !
Dendam darah menjalanjala,
Kita berdjuang ‘tuk keadilan.
Hantjurkanlah dunia lama
sampai kedasardasarnya!
Dunia baru kita tjiptakan,
milik s’luruh kaum pekerdja !

Perdjuangan penghabisan, )
Bersatulah berlawan ! ) 2 X
Internasionale pastilah didunia ! )

Tiada “pengasih” dan “penjajang”,
Tiada dewa atau radja;
Kebah’giaan umatmanusia
Mesti kita sendiri tjipta.
Musnahkan b’lenggu penindasan,
Rebut hasil djerih kerdja !
Kobarkan api, seg’ra tempa
selagi badja membara !

Perdjuangan . . . . .

Kitalah kaum pekerdja s’dunia,
Tent’ra kerdja nan perkasa.
Semuanja mesti milik kita,
Tak biarkan satupun penghisap !
Kala petir dahsjat menjambar
diatas si angkara murka,
Tibalah saat bagi kita
surja bersinar tjemerlang !

Perdjuangan . . . . .

*Teks bahasa Indonesia lagu “Internasionale” ini adalah konsep saduran yang dikerjakan oleh Kawan A. Yuwinu berdasarkan teks bahasa Tionghoa dan Rusia. Diumumkan untuk pertama kali pada 31 Mei 1970.

CHAT

Aksi Persatuan Oposisi Nasional setahun SBY-Budiono I

Aksi Persatuan Oposisi Nasional setahun SBY-Budiono II

Persatuan Oposisi Nasional seratus tahun SBY-Budiono 3

histate

BUKU TAMU


ShoutMix chat widget

PENGUNJUNG

PRD(Partai Rakyat Demokratik)

PRD(Partai Rakyat Demokratik)
Logo

Pengunjung

free counters

Natalie Cardone - Hasta siempre

Aksi Bangjaya Memprotes Banjir dan Kamacetan Di Jakarta

TIDUR JANGAN